Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan

Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan – Bermain dengan smartphone dibandingkan bermain dengan teman sebaya.

Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan

telecommute – Sementara itu, di bidang pendidikan teknik, para guru belum memanfaatkannya secara maksimal. Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi guru dan orang tua dalam proses pemanfaatan teknologi.

Dikutip dari republika, Di era modern yang semakin kompleks, teknologi sudah menjadi kebutuhan yang tidak lepas dari kehidupan , baik orang dewasa maupun anak di bawah umur tidak lepas dari pemanfaatan teknologi. Teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mempermudah penggunaan dan memberikan wawasan baru bagi siswa.

Penggunaan HP di Indonesia telah melebihi 100 juta. Menurut data APJII, hampir 55% penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif smartphone, terhitung separuh penduduk Indonesia.

Menurut data lembaga riset pasar pemasaran digital yang dihimoun dalam data tersebut, jumlah pengguna HP terus bertambah sejak 2016, dengan 65,2 juta pengguna, dan akan terus meningkat hingga 92 juta pada 2019 (Katadata, 2016).

Anak usia dini tidak dapat hidup tanpa penggunaan teknologi seperti smartphone, TV dan pemutar VCD atau segala sesuatu yang berhubungan dengan gadget.

Baca juga : Dampak Positif dan Negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi

Penggunaan smartphone, TV atau gadget di kalangan anak bukanlah hal yang baru, bahkan 90% orang tua mengatakan bahwa gadget yang paling sering digunakan oleh anak-anak mereka pada kelompok usia 4-6 tahun adalah smartphone (Zaini & Soenarto, 2019: 258) .

Banyak anak berusia antara 2 dan 6 tahun yang mengetahui cara menggunakan smartphone (Murdaningsih dan Faqih: 2014), dan lebih banyak anak yang menggunakan smartphone untuk menonton video dan game melalui YouTube.

Situasi ini tidak dapat dikontrol dengan baik oleh orang tua mereka. Berdasarkan pantauan di Desa Talun, Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro, anak-anak usia 3 hingga 6 tahun diketahui sudah mengenal smartphone dan cara penggunaannya. Anak-anak sudah dapat mengakses aplikasi dan game YouTube, serta dapat bermain secara normal tanpa bantuan orang tua.

Selain itu, banyak aktivitas anak sepulang sekolah antara lain menonton TV selain bermain di smartphone, dan banyak anak menggunakan gadget tanpa bantuan orang tua, sehingga mengakibatkan penurunan performa atau kemampuan belajar game anak. Aktivitas anak-anak sangat bergantung pada gadget.

Kecanduan gadget semacam ini biasa disebut dengan gangguan ketergantungan layar (SDD), disebabkan oleh penggunaan gadget yang berlebihan tanpa adanya kontrol dari lingkungan sekitar.

Bahkan, 70% orang tua di Indonesia mengaku memberikan waktu 6 bulan kepada anaknya. gadget sampai usia 4 bulan agar orang tua bisa naik tangga sambil mengerjakan PR; dan 65% orang tua juga bisa melakukan hal yang sama agar anaknya tidak ribut di depan umum (Chusna: 2017: 319; Zhallina: 2020 ), situasi ini perlu mempertimbangkan bantuan orang tua, agar anak tidak memasuki kondisi SDD di bawah bimbingan dan bantuan orang tua.

Selain dalam kehidupan sehari-hari, teknologi yang banyak digunakan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk pendidikan anak-anak . Menurut Nisa (2012: 94), teknologi dapat digunakan sebagai media untuk mengenalkan anak pada konsep angka dan penalaran. Namun, tidak semua guru dapat memanfaatkan teknologi dan menggunakan teknologi dengan tepat.

Banyak guru terutama di pedesaan kurang begitu memahami cara mengakses informasi melalui internet, dan perangkat pemutaran TV atau VCD biasanya hanya digunakan sebagai media untuk memutar video olah raga anak, walaupun penggunaan media ini lebih dari itu. bahwa. Padahal, teknologi memiliki banyak potensi yang membawa manfaat bahkan merugikan bagi anak-anak (Keengwe dan Onchwari: 2008).

Namun semua itu tergantung pada perkembangan lingkungan dan ketepatan kegiatan yang dapat dilakukan anak melalui teknologi, bahkan guru pun dapat memberikan berbagai penampilan dan memungkinkan guru memiliki ide dan inspirasi dalam melaksanakan kegiatan inovatif.

Baca juga : Agen Mata-mata Terbaik di Amerika Serikat

Namun kenyataannya, situasinya berbeda, guru sering kali jenuh dalam memberikan pembelajaran, selalu fokus pada membaca dan menulis, serta tidak menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran.

Berdasarkan laporan riset PISA 2018 yang dirilis oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia mengalami penurunan di semua indikator bidang dalam beberapa tahun terakhir, yang menjadikan penelitian Indonesia dalam pencapaian kualitas pendidikan menempati peringkat 10 terbawah. dari 79 negara / wilayah (Katadata: 2019).

Facebooktwitteryoutubeinstagrammail